Senin, 12 Maret 2012

Badak Sumatera

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) Diambang Punah

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan salah satu spesies badak yang dipunyai Indonesia selain badak jawa (Rhinocerus sondaicus). Badak sumatera (Sumatran rhino) juga merupakan spesies badak terkecil di dunia merupakan satu dari 5 spesies badak yang masih mampu bertahan dari kepunahan selain badak jawa,  badak india, badak hitam afrika, dan badak putih afrika.
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) seperti saudara dekatnya, badak jawa, semakin langka dan terancam kepunahan. Diperkirakan populasi badak bercula dua ini tidak mencapai 200 ekor. Wajar jika IUCN Redlist kemudian memasukkan badak sumatera  (Sumatran rhino) dalam daftar status konservasi critically endangered (kritis; CE).
Badak sumatera dalam bahasa Inggris disebut sebagai Sumatran rhino. Sering kali juga disebut sebagai hairy rhino lantaran memiliki rambut terbanyak ketimbang jenis badak lainnya. Badak Sumatera dalam bahasa latin disebur sebagai Dicerorhinus sumatrensis.
Ciri-ciri dan Habitat Badak Sumatera. Badak sumatera memiliki dua cula dengan panjang cula depan berkisar antara 25-80 cm dan cula belakang lebih pendek sekitar 10 cm. Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) mempunyai panjang tubuh antara 2-3 meter dengan berat antara 600-950 kg. Tinggi satwa langka ini berkisar antara 120-135 cm.

badak sumatera dewasa
Habitat badak sumatera meliputi hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan meskipun umumnya binatang langka ini menyukai hutan bervegetasi lebat. Satwa langka bercula dua ini lebih sering terlihat di hutan-hutan sekunder dataran rendah yang memiliki air, tempat berteduh, dan sumber makanan yang tumbuh rendah. Makanan utama badak sumatera meliputi buah (terutama mangga liar dan fikus), dedaunan, ranting-ranting kecil, dan kulit kayu.
Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan satwa penjelajah yang hidup dalam kelompok-kelompok kecil meskipun umumnya hidup secara soliter (menyendiri).Pada cuaca yang cerah sering turun ke daerah dataran rendah, untuk mencari tempat yang kering. Pada cuaca panas ditemukan berada di hutan-hutan di atas bukit dekat air terjun.
Populasi dan Konservasi Badak Sumatera. Badak sumatera dulunya tersebar mulai dari Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Malaysia. Namun saat ini diperkirakan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) telah punah dibeberapa tempat dan hanya menyisakan di Indonesia dan Malaysia.
Populasi badak sumatera semakin langka. Menurut data IUCN Redlist populasi badak bercula dua ini berkisar antara 220-275 ekor (1997). Bahkan menurut International Rhino Foundation (Virginia) diperkirakan populasi badak sumatera tidak mencapai 200 ekor (2010).
Di Sumatra populasi badak sumatera terkonsentrasi di Taman Nasional Bukit Barisan (60-80 ekor), Taman Nasional Gunung Lauser (60-80 ekor), TN. Way Kambas (15-25 ekor), dan Taman Nasional Kerinci Seblat (diperkirakan telah punah). Di Sabah Malaysia diperkirakan memiliki populasi berkisar antara 6-10 ekor. Sedangkan populasi di Kalimantan hingga sekarang belum teridentifikasi.

Ratu dan Andalas, sepasang badak sumatera di Way Kambas. Ratu kini sedang hamil satu bulan
Mengingat tingkat populasi badak sumatera tersebut wajar jika kemudian IUCN Redlist memasukkan badak sumatra dalam status konservasi critically endangered (kritis) yang merupakan satu tingkat di bawah status konservasi punah. Status konservasi critically endangered ini disandangkan pada badak sumatera sejak 1996.
Selain itu, badak sumatera juga terdaftar dalam CITES Apendiks I sejak tahun 1975. CITES Apendiks I berarti badak sumatera dilindungi secara internasional dari segala bentuk perdagangan.
Menurunnya populasi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) disebabkan oleh perburuan liar untuk mengambil cula dan anggota tubuh lainnya. Meskipun untuk praktek perburuan liar ditengarai tidak pernah terjadi lagi dalam kurun sepuluh tahun terakhir.
Faktor utama penurunan populasi badak sumatera saat ini adalah berkurangnya habitat akibat deforestasi hutan dan kebakaran hutan. Akibat semakin berkurang dan rusaknya hutan, beberapa tahun terakhir sering kali dilaporkan kemunculan badak bercula dua ini di daerah pemukiman warga dan perkebunan.
Badak Hamil Di Penangkaran. Ratu, seekor badak sumatera betina berusia 9 tahun dipastikan hamil di Penagkaran di Taman Naional Way Kambas. Kehamilan badak dalam penangkaran yang merupakan pertama kali dalam kurun 112 tahun ini memberikan sedikit harapan bagi pengembangan penangkaran badak sumatera dan badak jawa di Indonesia.
Klasifikasi Ilmiah. Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Perissodactyla; Famili: Rhinocerotidae. Genus: Dicerorhinus; Spesies: Dicerorhinus sumatrensis
Referensi: www.iucnredlist.org; Gambar: www.arkive.org; sains.kompas.com

Badak Jawa

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu spesies satwa terlangka di dunia dengan perkiraan jumlah populasi tak lebih dari 60 individu di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan sekitar delapan individu di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam (2000). Badak Jawa juga adalah spesies badak yang paling langka diantara lima spesies badak yang ada di dunia dan masuk dalam Daftar Merah badan konservasi dunia IUCN, yaitu dalam kategori sangat terancam atau critically endangered.
Badak diyakini telah ada sejak jaman tertier (65 juta tahun yang lalu). Seperti halnya Dinosaurus yang telah punah, Badak pada 60 juta tahun yang lalu memiliki 30 jenis banyak mengalami kepunahan. Saat ini hanya tersisa 5 spesies Badak, 2 spesies diantaranya terdapat di Indonesia.
Macam spesies Badak yang masih bertahan hidup yaitu;
  • Badak Sumatera (Sumatran rhino) bercula dua atau Dicerorhinus sumatrensis. Terdapat di Pulau Sumatera (Indonesia) dan Kalimantan (Indonesia dan Malaysia).
  • Badak Jawa (Javan rhino) bercula satu atau Rhinocerus sondaicus. Terdapat di Pulau Jawa (Indonesia) dan Vietnam
  • Badak India (Indian rhino) bercula satu atau Rhinocerus unicornis. Tedapat di India dan Nepal.
  • Badak Hitam Afrika bercula cula (Black Rhino) atau Diceros bicormis. Terdapat di Kenya, Tanzania, Kamerun, Afrika Selatan, Namibia dan Zimbabwe.
  • Badak Putih Afrika bercula dua (White Rhino) atau Cerathoterium simum. Terdapat di Kongo.

Ciri-ciri Fisik Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus)

Badak Jawa Rhinocerus sondaicusBadak Jawa umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman. Memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina. Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 – 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 – 4 m. Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.
Kulit Badak Jawa  (Rhinocerus sondaicus) memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja. Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit. Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut. Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Populasi Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus)

Di Indonesia, Badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak bercula satu ini tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa.
Badak Jawa kini hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUT), Banten. Selain di Indonesia Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) juga terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Individu terakhir yang di luar TNUT, ditemukan ditembak oleh pemburu di Tasikmalaya pada tahun 1934. Sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor.
Badak ini kemungkinan adalah mamalia terlangka di bumi. Berdasarkan sensus populasi Badak Jawa yang dilaksanakan oleh Balai TNUK, WWF – IP dan YMR pada tahun 2001 memperkirakan jumlah populasi badak di Ujung Kulon berkisar antara 50 – 60 ekor. Sensus terakhir yang dilaksanakan Balai TN Ujung Kulon tahun 2006 diperkirakan kisaran jumlah populasi badak Jawa adalah 20 – 27 ekor. Sedangkan populasi di di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam, diperkirakan hanya 8 ekor (2007).
Populasi Badak bercula satu (Badak Jawa) yang hanya 30-an ekor ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan populasi saudaranya, Badak Sumatera yang diperkirakan berkisar antara 215 -319 ekor. Juga jauh lebih sedikit ketimbang populasi satwa lainnya seperti Harimau Sumatera (400-500 ekor), Elang Jawa (600-an ekor), Anoa (5000 ekor).

Konservasi dan Perlindungan Badak Jawa

Pada tahun 1910 badak Jawa sebagai binatang liar secara resmi telah dilindungi Undang-Undang oleh Pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1921 berdasarkan rekomendasi dari The Netherlands Indies Society for Protection of Nature, Ujung Kulon oleh pemerintah Belanda dinyatakan sebagai Cagar Alam. Keadaan ini masih berlangsung terus sampai status Ujung Kulon diubah menjadi Suaka Margasatwa di bawah pengelolaan Jawatan Kehutanan dan Taman Nasional pada tahun 1982.
Badak JawaBadak Jawa (Badak bercula satu) yang hidup berkumpul di satu kawasan utama sangat rentan terhadap kepunahan yang dapat diakibatkan oleh serangan penyakit, bencana alam seperti tsunami, letusan gunung Krakatau, gempa bumi. Selain itu, badak ini juga kekurangan ruang jelajah dan sumber akibat invasi langkap (arenga) dan kompetisi dengan banteng.
Penelitian awal WWF mengidentifikasi habitat yang cocok, aman dan relatif dekat adalah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat, yang dulu juga merupakan habitat badak Jawa. Jika habitat kedua ditemukan, maka badak yang sehat, baik, dan memenuhi kriteria di Ujung Kulon akan dikirim ke wilayah yang baru. Habitat ini juga akan menjamin keamanan populasinya
Klasifikaksi Ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Subfilum: Vertebrata. Kelas: Mammalia. Ordo: Perissodactyla. Superfamili: Rhinocerotides. Famili: Rhinocerotidae. Genus: Rhinoceros. Spesies: Rhinoceros sondaicus (Desmarest, 1822)
Sedikit tambahan; Rhinoceros berasal dari bahasa Yunani yaitu “rhino” yang berarti “hidung” dan “ceros” yang berarti “cula”. Sondaicus merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. “Sunda” berarti “Jawa” sedangka “icus” dalam bahasa latin mengindikasikan lokasi
Referensi: www.wwf.or.id; www.badak.or.id; www.iucnredlist.org; Gambar: www.arkive.org

Nama Nama Hewan Beserta Nama Ilmiah

  • Ajag atau Asiatic Wild Dog (Cuon alpinus)
  • Anjing atau Dog (Canis lupus familiaris)
  • Anoa Pegunungan atau Mountain Anoa (Bubalus quarlesi)
  • Anoa Dataran Rendah atau Lowland Anoa (Bubalus depressicornis)
  • Babirusa atau Babiroussa (Babyrousa babirussa)
  • Bajing Hitam atau Black-striped Squirrel (Callosciurus nigrovittatus)
  • Bajing Kelapa atau Plantain squirrel (Callosciurus notatus)
  • Bajing Tanah atau Three-striped Ground Squirrel (Lariscus insignis)
  • Bajing Terbang Ekor Merah atau Javanese Flying Squirrel (Iomys horsfieldi)
  • Badak Jawa atau Javan rhino (Rhinoceros sondaicus)
  • Badak Sumatera atau Sumatran rhino (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Banteng (Bos javanicus)
  • Bekantan atau Long-Nosed Monkey (Nasalis larvatus)
    Seekor Bekantan Jantan
    Seekor Bekantan Jantan
  • Beruang Madu atau Sun Bear (Helarctos malayanus)
  • Beruk Mentawai atau Pagai Macaque (Macaca pagensis)
  • Binturung atau Binturong (Arctictis binturong).
  • Cecurut rumah atau Asian House Shrew (Suncus murinus)
  • Domba atau Sheep (Ovis aries)
  • Duyung atau Dugong (Dugong dugon)
  • Gajah Sumatera atau Asian Elephant (Elephas maximus sumatranus)
  • Harimau Bali atau Bali Tiger (Panthera tigris balica)
  • Harimau Jawa atau Javan Tiger (Panthera tigris sondaica).
  • Harimau Sumatera atau Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae)
  • Hiu Tutul atau Whale Shark (Rhincodon typus).
  • Jelarang atau Black Giant Squirrel (Ratufa bicolor)
  • Kambing Hutan Sumatera atau Sumatran Serow (Capricornis sumatraensis)
  • Kambing Ternak atau Domestic Goat (Capra aegagrus hircus)
  • Kancil atau Pelanduk atau Java Mouse-deer (Tragulus javanicus)
  • Kancil Napu atau Greater Mouse-deer (Tragulus napu)
  • Kanguru Pohon Mantel Emas atau Golden-mantled Tree Kangaroo (Dendrolagus pulcherrimus)
  • Kelinci Jawa atau Black-naped Hare (Lepus nigricollis)
  • Kelinci Sumatera atau Sumatran Striped Rabbit (Nesolagus netscheri)
  • Kera Hitam Sulawesi atau Celebes Crested Macaque (Macaca nigra)
  • Kerbau atau Asian Water Buffalo (Bubalus bubalis)
  • Kijang atau Red Muntjac (Indian Muntjac)
  • Kucing atau Cat (Felis catus)
  • Kucing Bakau atau Fishing Cat (Felis viverrinus)
  • Kucing Emas atau Asian Golden Cat (Felis temmincki)
  • Kucing Hutan atau Leopard Cat (Prionailurus bengalensis)
  • Kucing Merah atau Borneo Bay Cat (Pardofelis badia)
  • Kubung atau Sunda Flying Lemur (Cynocephalus variegatus)
  • Kukang Besar atau Greater Slow Loris (Nycticebus coucang)
  • Kukang Borneo atau Bornean Slow Loris (Nycticebus menagensis)
  • Kukang Jawa atau Javan Slow Loris (Nycticebus javanicus)
  • Kuskus Beruang atau Bear Cuscus (Ailurops ursinus)
  • Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae)
  • Kuskus Gunung atau Mountain Cuscus (Phalanger carmelitae)
  • Kuskus Matabiru atau Blue-eyed Cuscus (Phalanger matabiru)
  • Kuskus Pulau Obi atau Obi Cuscus (Phalanger rothschildi)
  • Landak atau Malayan Porcupine (Hystrix brachyura)
  • Landak Jawa atau Sunda Porcupine (Hystrix javanica)
  • Landak Sumatera atau Sumatran Porcupine (Hystrix sumatrae)
  • Landak Kalimantan atau Bornean Porcupine (Thecurus crassispinis)
  • Lumba-lumba hidung botol atau Common bottlenose dolphins (Tursiops truncatus)
  • Lutra (Lutra lutra)
  • Lutung Dahi Putih atau White-fronted Langur (Presbytis frontata)
  • Lutung Jawa atau Javan Langur (Trachypithecus auratus)
  • Lutung Merah atau Maroon Leaf Monkey (Presbitys rubicunda)
  • Macan Dahan Sumatera atau (Neofelis diardi diardi)
  • Macan Dahan Kalimantan atau (Neofelis diardi borneensis)
  • Macan Tutul Jawa atau Java Leopard (Panthera pardus melas)
  • Mentilin atau Horsfield’s Tarsier (Tarsius bancanus)
  • Monyet Ekor Panjang atau Crab-eating Macaque (Macaca fascicularis)
  • Monyet Jambul atau Tonkean Macaque (Macaca tonkeana)
  • Musang Air atau Otter Civet (Cynogale bennettii)
  • Musang Akar atau Small-toothed Palm Civet (Arctogalidia trivirgata)
  • Musang Luwak atau Common Palm Civet (Paradoxurus hermaphroditus)
  • Musang Rase atau Small Indian Civet (Viverricula indica)
  • Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus)
  • Orangutan Sumatera atau Sumatran Orangutan (Pongo abelii)
  • Owa Jawa atau Silvery Javan Gibbon (Hylobates moloch)
  • Paus Bongkok atau Humpback Whales (Megaptera novaeangliae)
  • Paus Biru atau Fin Whale (Balaenoptera physalus)
  • Pesut Mahakam atau Irrawaddy Dolphin (Orcaella brevirostris)
  • Pulusan atau Hog Badger (Arctonyx collaris)
  • Rungka atau Thomas’s Langur (Presbitys thomasi)
  • Rusa Bawean atau Bawean Deer (Axis kuhlii)
  • Rusa Sambar atau Sambar Deer (Cervus unicolor)
  • Rusa Timor atau Timor Deer (Cervus timorensis)
  • Rusa Totol atau Axis Deer (Axis axis)
  • Tapir atau Asian Tapir (Tapirus indicus)
    Tapir
    Seekor Tapir
  • Sapi Ternak atau Cattle (Bos taurus)
  • Siamang atau Siamang Gibbon (Symphalangus syndactylus)
  • Sigung atau Indonesian Stink Badger (Mydaus javanensis)
  • Surili Jawa atau Javan Surili (Presbytis comata)
  • Tarsius (Tarsius spectrum)
  • Tarsius Kerdil atau Pygmy Tersier (Tarsius pumilus)
  • Tarsius Siau atau Siau Island Tarsier (Tarsius tumpara)
  • Trenggiling Jawa atau Sunda Pangolin (Manis javanica)
  • Tupai Kekes atau Javan treeshrew (Tupaia javanica)

    referensi: http://alamendah.wordpress.com/2011/03/06/nama-latin-dan-inggris-100-hewan-fauna-indonesia/